Waspadalah, Allah SWT Selalu Melihatmu & Mengawasimu


Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Melihat, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mengawasi, dan Yang Maha Melihat, penglihatan-Nya meliputi yang ghaib maupun yang nyata.

Allah SWT berfirman :
sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. (Q.S. Al-Fajr : 14)

…. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. (Q.S. Al-Ahzab : 52)

Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (Q.S. As-Sajdah : 6)

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hasyr : 22)

Jadi, semua perbuatan kita, baik itu yang kita rahasiakan maupun kita nyatakan pasti Allah SWT mengetahuinya.
Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Q.S. At-Taghaabun : 4)

Bahkan rahasia kita, bisikan kita, apa yang kita sembunyikan dan semuanya Allah SWT pasti mengetahuinya.
Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib. (Q.S. At-Taubah : 78)

Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan. (Q.S. An-Nuur : 29)

Jadi, berwaspadalah saudara-saudaraku. Allah SWT mengetahui apa saja yang telah kita lakukan bahkan mengetahui pula apa yang akan kita lakukan nanti.


Semoga bermanfaat

Apakah Sebenarnya Hari Pembalasan Itu? Berikut Pembahasannya


Kita sering sekali mendengar Hari Pembalasan itu, tetapi banyak di antara kita yang tidak tahu apa sebenarnya Hari Pembalasan itu. Allah SWT memberi tahu kita bahwa Hari Pembalasan itu pasti terjadi, sebagaimana firman-Nya.
dan sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi. (Q.S. Adz-Dzaariyaat : 6)

Nah, di dalam Al-Quranul Hakim Allah SWT menjelaskan  apa sebenarnya Hari Pembalasan itu.
Allah SWT berfirman :
Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (Q.S. Al-Infithaar : 17-19)

Di ayat lain, Allah SWT juga menjelaskan tentang Hari Pembalasan tersebut. Allah SWT berfirman :
mereka bertanya: "Bilakah hari pembalasan itu?" (Hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. (Dikatakan kepada mereka): "Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dulu kamu minta untuk disegerakan." (Q.S. Adz-Dzaariyaat : 12-14)

Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar. (Q.S. Al-Ghaasyiyah : 1-8)

Allah SWT juga memberi tahu kita hidangan pada Hari Pembalasan bagi orang yang sesat lagi mendustakan. Sebagaimana firman-Nya :
Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum, dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan." (Q.S. Al-Waaqi’ah : 51-56)

Masya Allah, begitu mengerikannya azab dari Allah SWT. Bahkan itu baru sekedar hidangannya saja, belum lagi siksaan dan balasan lainnya yang akan Allah SWT berikan nanti.

Lalu siapakah orang-orang yang mendustakan hari Pembalasan itu?
Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu" (Q.S. Al-Muthaffifiin : 12-13)

Begitulah pembahasan tentang Hari Pembalasan dari Al-Quran, tentu saja yang paling lengkap mengetahui tentang hal itu adalah Raja dari Hari Pembalasan itu sendiri, yaitu Allah SWT.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang Menguasai di Hari Pembalasan. (Q.S. Al-Fatihah : 2-4)

Semoga bermanfaat

Siapa Itu Makhluk Terbaik di Sisi Allah SWT?


Di Dalam Al-Quranul Karim Allah SWT memberi tahu kita siapa itu makhluk terbaik di sisi-Nya.

Sebagaimana firman Allah SWT
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (Q.S. Al-Bayyinah : 7)

Di Surah Al-Bayyinah ayat ke-7 tersebut Allah SWT menjelaskan bahwasannya sebaik-baik makhluk adalah orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Tidak sampai di situ saja, Allah SWT melanjutkan ayatnya dengan menjelaskan ganjaran/balasan bagi mereka itu.

Allah SWT berfirman :
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Bayyinah : 8)

Luar biasa bukan? Semoga kita termasuk orang-orang yang terbaik di sisi Allah SWT dan mendapat balasan yang telah dijanjikan-Nya. Aamiin

Bukti-Bukti Kebesaran Allah SWT Pada Alam Semesta


Perhatikanlah firman-firman Allah SWT di bawah ini saudaraku.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapattanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

(Q.S. Ar-Ruum : 20-25)

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Ar-Rahmaan)

Mari kita terus meningkatkan ketaatan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dan mari kita selalu bersyukur atas segala yang telah diberikan Allah SWT kepada kita.

Semoga bermanfaat.

Kenapa Dunia Tidak Diciptakan Malam Ataupun Siang Terus Menerus?


Allah SWT menjelaskan alasan kenapa Dia menciptakan dunia ini selalu ada siang dan malam, kenapa tidak malam secara terus menerus sampai kiamat, dan kenapa tidak siang secara terus menerus. Ini dia penjelasan Allah SWT :
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?" Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Q.S. Al-Qashash : 71-73)

Maka cukuplah peringatan Allah SWT sebagai renungan kita bersama
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Ar-Rahmaan)


Maka dari itu, sudah sewajarnya kita bersyukur dan senantiasa taat kepada Allah SWT.

Semoga bermanfaat

Do'a Nabi Nuh AS Meminta Azab Untuk Kaumnya Yang Durhaka



Kaum Nabi Nuh AS banyak menentang dan ingkar kepada Allah SWT dan risalah yang dibawanya, setiap hari, siang dan malam Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya agar kaumnya kembali kepada ajaran tauhid, yaitu meng-Esakan Allah SWT dan meninggalkan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain daripada Allah SWT. Walaupun selama 950 tahun Nabi Nuh AS hidup di tengah-tengah kaumnya dan berdakwah untuk kebaikan umatnya, tetapi hanya didapati begitu sedikit yang mengikuti ajarannya dan tetap pada kekafiran mereka. Bahkan anaknya sendiri pun tidak ingin mengikuti perintah ayahnya dan pada akhirnya ikut tenggelam bersama kaum Nabi Nuh AS yang durhaka tersebut. Pada akhirnya Nabi Nuh AS berdo'a kepada Allah SWT agar menurunkan azab kepada umatnya yang durhaka, kita pasti sudah mengetahui bahwasannya do'a para nabi itu diijabah oleh Allah SWT. Di bawah ini adalah do'a Nabi Nuh AS tersebut.

Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma'siat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan." (Q.S. Nuh : 26-28)

Dan benar saja, segera Allah SWT mengabulkan do'a nabi-Nya ini. Perhatikan firman Allah SWT berikut.
Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: "Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman). Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai belasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Q.S. Al-Qamar : 10-15)

Di ayat lain Allah SWT menjelaskan.
Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ." (Q.S. Huud : 44)

Begitulah kesudahan kaum Nabi Nuh AS yang ingkar kepada risalahnya untuk mentauhidkan Allah SWT semata.

Semoga bermanfaat.

Sekilas Keunikan & Keistimewaan Surah Al-Baqarah


1. SURAT TERPANJANG dengan 286 ayat yang banyaknya hampir 3 juz (2 juz lebih)
2. TERDAPAT AYAT TERPANJANG, yaitu ayat ke-282 yang membahas tentang hutang dan panjangnya 1 halaman penuh

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Baqarah : 282) 

3. TERDAPAT AYAT TERAGUNG, yaitu ayat ke-255 atau biasa kita sebut Ayat Kursi
Artinya :
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. Al-Baqarah : 255)

Semoga bermanfaat bagi kita semua

Apa Itu Neraka Saqar dan Siapa Saja Penghuninya?


Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu? 
Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (Q.S. Al-Muddatstsir : 27-30)

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"

1. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,

2. dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,

3. dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,

4. dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian." (Q.S. Al-Muddatstsir : 42-47)

Wahai saudaraku, mari kita renungi ayat-ayat di atas sebagai introspeksi diri bagi kita semua untuk menjadi hamba Allah SWT yang lebih baik dan lebih baik lagi

Teladan Nabi Ibrahim AS dan Ya'qub AS Bagi Orang Tua


Contohlah Sang Bapak Para Nabi, yaitu Ibrahim AS dan cucunya Ya'qub AS ketika mereka memberikan nasehat kepada anak-anaknya. Yang ia wariskan dan pesankan kepada anak-anaknya bukanlah harta yang melimpah ataupun pangkat/jabatan yang tinggi. Perhatikanlah firman Allah SWT berikut.

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (Q.S. Al-Baqarah : 132)

Yang beliau pesankan dan wariskan kepada anak cucunya adalah "JANGANLAH KAMU MATI KECUALI DALAM MEMELUK AGAMA ISLAM." Begitu indah dan patut dicontoh bukan? Tentu alasannya sudah jelas. Bahwa kehidupan dunia itu tidak akan dapat mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat, tidak akan dapat menyelamatkan kita ketika sakaratul maut, ketika di alam kubur, terlebih lagi tidak akan dapat menyelamatkan kita ketika berdiri di hadapan Allah SWT untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita.

Tetapi apa yang dapat membuat kita bahagia dunia akhirat dan menyelamatkan kita dari hal-hal tersebut? Jawabannya adalah tingkat iman dan Islam kita kepada Allah SWT.

Dan yang ingin saya tanyakan sekali lagi, apa nikmat Allah SWT yang terbesar dan banyak sekali umat Islam lupakan? Jawabannya mudah namun kebanyakan kita mungkin tidak tahu, yaitu nikmat beragama Islam.

Bersyukurlah wahai saudaraku dan renungilah itu

Tahukah Kamu Apa Bahan Bakar Api Neraka Itu?


Perhatikanlah firman Allah SWT berikut ini saudaraku,

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. At-Tahrim : 6)

Dari ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kita agar memelihara diri kita dan keluarga kita dari api neraka dengan senantiasa mematuhi segala perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Karena apa? Karena bahan bakar dari api neraka itu adalah manusia dan batu, belum lagi kata Allah SWT malaikat-malaikat yang menjaga itu kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah SWT dan menaati perintah-Nya.

Jangankan api neraka, api yang berasal dari korek api saja sudah begitu sakit, bagaimana panasnya api neraka yang kata Rasulullah SAW panasnya 70 kali lebih panas dari api yang dinyalakan di dunia. Rasulullah SAW bersabda :
“Panas api yang kamu nyalakan di dunia ini (termasuk matahari) hanyalah sepertujuh puluh dari panasnya api neraka di akhirat. Kalau sebagian kecil (api neraka) jatuh ke dunia, niscaya mendidihlah air laut karena panasnya.” (HR. Muslim)

Mari kita senantiasa menjalani perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya agar kita tidak menjadi bahan bakar api neraka. Sedangkan untuk orang kafir, mereka sudah dipastikan akan menjadi bahan bakar dari api neraka.

Allah SWT berfirman :
Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (Q.S. Al-Baqarah : 24)

Dan Allah SWT lebih perjelas lagi,
Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka, (Q.S. Ali ‘Imran : 10)

Apa Sebenarnya Tujuan & Kenapa Kita Hidup di Dunia Ini?


Allah SWT menjelaskan kepada kita bahwa kita diciptakan-Nya beserta semua makhluk-Nya agar beribadah dan patuh hanya pada-Nya.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Adz-Dzaariyaat : 56)

Maka dari itu kita hidup ini bukan untuk santai-santai dan seenaknya saja. Tapi kita akan diuji oleh-Nya
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Q.S. Al-'Ankabuut : 2)

Lalu untuk apa Allah SWT menguji kita?
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (Q.S. Al-Mulk : 2)

Apa dan bagaimana Allah SWT menguji kita?
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Baqarah : 155)

Maka dari itu mari kita taati Allah SWT dan Rasul-Nya dan jangan kita melanggar perintah-Nya
Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya), (Q.S. Al-Anfaal : 20)

Pelajaran Penting Dari Surat Nabi Sulaiman AS



Allah SWT berfirman :

Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri." (Q.S. An-Naml : 30-31)

Firman Allah SWT di atas adalah isi dari surat Nabi Sulaiman ‘AS kepada Ratu Balqis. Ayat di atas juga menjelaskan bahwa Nabi Sulaiman ‘AS meminta kepada Ratu Balqis agar datang kepadanya dengan tidak berlaku sombong dan datang sebagai orang-orang yang berserah diri.

Dari ayat yang merupakan isi surat Nabi Sulaiman ‘AS tersebut memiliki pelajaran dan hikmah yang begitu penting untuk untuk kita. Berikut adalah di antaranya :

1. Memulai segala sesuatu yang baik harus didahulukan dengan menyebut nama Allah SWT, di antara yang diajarkan-Nya di ayat tersebut adalah bacaan “Bismillaahirrahmaanirrahiim” yang mengandung arti Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, jadi kita harus mendahulukan semua kegiatan yang baik-baik dengan menyebut nama Allah SWT seperti mengirim surat (meskipun kepada orang yang kafir sebagaimana ayat di tersebut bahwa Ratu Balqis adalah seorang yang kafir), pergi keluar rumah, berkendara, ujian/test, dan masih banyak lagi yang lainnya.

2. Kita harus senantiasa mengingatkan dan menyuruh semua orang (termasuk orang kafir) agar jangan berlaku sombong, karena itu adalah perbuatan tercela dan perbuatan yang buruk sekali.

3. Kita harus senantiasa mengingatkan semua orang (termasuk orang kafir) untuk selalu berserah diri (ikhlas, tidak sombong, berfikir positif dan tidak berfikir negatif)

4. Kita harus menerima undangan (undangan kebaikan) dari orang lain tanpa ada rasa sombong dan dengan berserah diri.


Semoga pembahasan di atas bermanfaat bagi kita semua

Penutup Yang Indah Dari Surah Al-Baqarah



Allah SWT mengajarkan kepada kita banyak do’a yang diajarkan-Nya di dalam Al-Quran. Begitu banyak do’a-do’a yang mengandung makna yang sangat dalam dan membuat hati kita tersentuh ketika membacanya. Salah satu yang menjadi favorit banyak orang dalam berdo’a adalah do’a yang terdapat di akhir surah Al-Baqarah (ayat ke-286). Dan do’a ini sangat dianjurkan untuk dihafal dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Do’a ini sangat menyentuh jiwa, sangat indah, dan tertata dengan begitu baik. Berikut adalah do’anya :

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا 

رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا 

رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا 

أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Artinya :

…"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

Subhanallah begitu indahnya penutup Surah Al-Baqarah dengan do’a ini. Dan berikut adalah beberapa kandungan dari do’a ini.

1. Kita memohon agar Allah SWT jangan menghukum kita jikalau kita lupa atau jika kita melakukan kesalahan.

2. Kita memohon kepada Allah SWT agar jangan memberi beban yang berat di hidup kita sebagaimana Dia berikan kepada orang-orang sebelum kita.

3. Kita memohon kepada Allah SWT agar jangan memberi kita cobaan atau sesuatu apapun yang kita tak sanggup untuk memikulnya.

4. Kita memohon kepada Allah SWT agar memaafkan kita, mengampuni kita dan merahmati kita.

5. Kita memohon Allah SWT Yang Maha Penolong agar menolong kita dari tindakan ataupun sikap orang-orang kafir kepada kita.

Begitu dalam maknanya sehingga sangat disayangkan jika kita tidak mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Semoga bermanfaat

Neraka, Siksa Abadi Sepanjang Masa


Telah kita ketahui bahwasanya di alam akhirat kelak kita akan menempati dua pilihan, yakni surga dan neraka. Kita akan mengetahui di mana kita ditempatkan sesuai dengan amalan kita selama hidup di dunia. Jika lebih banyak pada kebaikan sudah barang tentu kita akan masuk ke dalam surga, tempat terindah sepanjang masa. Namun sebaliknya, jika lebih banyak pada keburukan, itu sudah pasti akan masuk ke neraka, tempat paling mengerikan.
Neraka merupakan satu-satunya tempat yang paling ditakuti. Bahkan, orang jahat sekali pun enggan memasuki tempat itu. Mengapa? Karena di dalamnya terdapat siksaan yang amat sangat pedih. Api dalam neraka memiliki kekuatan panas yang amat sangat luar biasa, yang jika kita menginjaknya akan mendidih sampai ke kepala. Dan siksa dalam neraka itu abadi. Mengapa demikian?
Orang disiksa di neraka adalah karena segala kenikmatan Allah baginya yang tidak terbilang banyaknya itu dipergunakan untuk menentang perintah dan larangan Allah. Diciptakannya ia sebagai manusia adalah suatu kenikmatan. Segala kebutuhan hidup tersedia untuknya. Diberinya anggota tubuh yang mampu melaksanakan petunjuk akalnya. Diberinya materi untuk memenuhi kebutuhan fisik dan metafisik.
Sekarang pertanyaanya, apakah tidak pantas ia dihukum jika ia mengkhianati dan mengingkari si pemberi kenikmatan itu? Seorang sahabat bernama Abu Dzat bertanya, “Ya Rasulullah bagaimana saya bisa bersedekah sedang saya tidak punya uang?”
Rasulullah bersabda, “Pintu-pintu sedekah ialah, mengucap tasbih, tahmid dan takbir, mengajak (menyuruh) kepada yang makruf (kebajikan) dan mencegah segala yang mungkar. Menyingkirkan duri, tulang dan batu dari tengah jalan. Menuntun orang buta yang memerlukan pertolongan. Memberi paham dan pengertian yang baik kepada orang tuli dan bisu,” (HR. Muslim).
Itu hanya salah satu ibadah yang harus kita lakukan, yakni bersedekah. Jadi, tidak ada alasan untuk kita meninggalkan perintah Allah. Karena Allah akan senantiasa memberikan kemudahan kepada kita untuk melaksanakan perintahnya.
Hanya saja, terkdang kita lebih banyak mengeluh dan tidak mensyukuri nikmat yang dimiliki. Kita senantiasa membangkang terhadap perintah Allah. Padahal, kita tahu bahwa Allah-lah oemberi nikmat kehidupan. Maka, jangan heran, jika Allah akan memberikan siksa yang abadi di neraka kelak. Naudzubillah. [Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab/Karya: Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi/Penerbit: Gema Insani]

Orang Berdosa, Tidak Mati dan Tidak Hidup di Akhir Zaman


Allah SWT telah mengutus para Nabi dan Rasul sebagai pembawa kabar gembira bagi umat manusia. Di mana kabar tersebut, merupakan langkah yang dapat ditempuh oleh manusia agar selamat dalam menjalankan kehidupan di dunia. Dengan adanya kabar itu, maka manusia akan selamat dari tipu daya dunia dan meraih kebahagiaan di akhirat kelak.
Namun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa kedatangan para Nabi dan Rasul itu tidak membuat semua orang terketuk hatinya untuk mengikuti langkah keduanya. Ada banyak pula orang-orang yang masih tersesat dalam kehidupan dunia. Mereka telah diberi petunjuk tapi mengingkarinya. Itulah yang kita kenal sebagai orang-orang yang berdosa.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup,” (QS. Thaha: 74).
Apa arti tidak mati dan tidak hidup dalam ayat tersebut?
Orang yang dimaksud adalah orang yang berdosa (mujrim). Di neraka kelak dia tidak mati sehingga selalu merasakan siksa Allah dan tidak pernah menikmati kehidupan akhirat yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan.
Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir,” (QS. Fathir: 36). []
Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab/Karya: Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi/Penerbit: Gema Insani
Islampos

Sifat Shalat Nabi (36): Apakah Makmum Ikut Mengucapkan Samiallahu Liman Hamidah?

Sifat Shalat Nabi (36)

Apakah makmum ikut mengucapkan sami’allahu liman hamidah ketika bangkit dari ruku’ dalam shalat? Ataukah cukup makmum mengucapkan rabbana lakal hamdu?
Hadits yang membicarakan masalah ini adalah dari Abu Hurairah dan Anas bin Malik, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
Jika imam bangkit dari ruku’, maka bangkitlah. Jika ia mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah (artinya: Allah mendengar pujian dari orang yang memuji-Nya) ‘, ucapkanlah ‘robbana wa lakal hamdu (artinya: Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji)‘.” (HR. Bukhari no. 689, 734 dan Muslim no. 411)
Berikut adalah perkataan Imam Nawawi dalam masalah ini.
Menurut madzhab Syafi’i, ketika bangkit dari ruku’ hendaklah mengucapkan sami’allahu liman hamidah. Jika berdirinya sudah lurus sempurna, hendaklah mengucapkan rabbana lakal hamdu hingga selesai. [Kedua bacaan tadi berlaku bagi imam, makmum dan munfarid, orang yang shalat sendirian].
Menurut Atha’, Abu Burdah, Muhammad bin Sirin, Ishaq dan Daud, bacaan sami’allahu liman hamidah dan rabbana lakal hamdu berlaku untuk imam, makmum dan munfarid(orang yang shalat sendirian).
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa bacaan sami’allahu liman hamidah berlaku untuk imam dan orang yang shalat sendirian, sedangkan bagi makmum cukup membaca rabbana lakal hamdu. Demikian pula pendapat Ibnul Mundzir dari Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah, Asy-Sya’bi, Malik dan Ahmad. Imam Ahmad menyatakan bahwa demikian aku berpendapat.
Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Abu Yusuf, Muhammad dan Ahmad menyatakan, “Imam menggabungkan bacaan sami’allahu liman hamidah dan rabbana lakal hamdu. Sedangkan makmum cuma mencukupkan dengan rabbana lakal hamdu.”
Disebutkan oleh Imam Nawawi, ulama Syafi’iyah memaknakan hadits di atas, ucapkanlah “rabbana lakal hamdu” di mana kalian sudah tahu bahwa tetap mengucapkan “sami’allahu liman hamidah”. Yang disebut dalam hadits hanyalah “rabbana lakal hamdu” (bagi makmum) karena bacaan “sami’allahu liman hamidah” dijaherkan (dikeraskan) sehingga makmum mendengar. Sedangkan bacaan “rabbanaa lakal hamdu” tidak dikeraskan atau dibaca sirr (lirih). Mereka pun sudah tahu akan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat. Kaedah asalnya, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh diikuti.
Intinya, para makmum diperintah tetap mengucapkan sami’allahu liman hamidah, tak perlu ada perintah khusus akan hal itu (karena sudah maklum atau dipahami). Sedangkan bacaan rabbana lakal hamdu (karena dilirihkan, pen.), diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membacanya. Wallahu a’lam. (Lihat Al-Majmu’, 3: 273)
Kesimpulannya, bacaaan sami’allahu liman hamidah dibaca oleh imam, makmum dan orang yang shalat sendirian.
Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga bermanfaat.

Referensi:

Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab li Asy-Syairazi. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alamil Kutub.

Sumber : Rumaysho.com

Sifat Shalat Nabi (35): Menempelkan Hidung Saat Sujud, Wajibkah?

Sifat Shalat Nabi (35)

Apakah wajib menempelkan hidung bersama dahi saat sujud?
Apa yang mesti ditempelkan ketika sujud dijelaskan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbasradhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ
Aku diperintahkan bersujud dengan tujuh bagian anggota badan: (1) Dahi (termasuk juga hidung, beliau mengisyaratkan dengan tangannya), (2,3) telapak tangan kanan dan kiri, (4,5) lutut kanan dan kiri, dan (6,7) ujung kaki kanan dan kiri. ” (HR. Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490)
Imam Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa termasuk tuntunan melakukan sujud adalah dengan menempelkan hidung bersama dengan dahi (jidat). Al-Bandanijiy dan lainnya mengatakan bahwa disunnahkan meletakkan dahi dan hidung berbarengan, tidak mendahulukan yang satu dari lainnya. Jika hidung saja yang menempel sedangkan bagian dahi tidak ada yang menempel, maka tidaklah cukup (tidak sah). Hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama Syafi’iyah. Namun jika dahi saja yang menempel, dianggap cukup. Imam Syafi’i dalam Al-Umm mengatakan, “Aku tidak menyukai hal itu, namun menganggap cukup.” Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafi’i dan menjadi pendapat jumhur (mayoritas ulama).
Sedangkan penulis Al-Bayan, dari Syaikh Abu Zaid Al-Maruzi menyatakan ada satu pendapat dari Imam Syafi’i yang menyebutkan bahwa wajib sujud dengan dahi dan hidung berbarengan. Ini pendapat yang asing di kalangan madzhab Syafi’i, namun terasa kuat dari sisi dalil. (Al-Majmu’, 3: 277)
Imam Nawawi juga menyatakan bahwa ulama Syafi’iyah berdalil akan wajibnya menempelkan dahi pada tanah. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas dan Abu Humaid serta hadits yang lainnya, juga dari hadits Khabab yang dimaksudkan dalam kitab ini. Karena maksud sujud adalah tadzallul dan khudu’, yaitu tunduk dan menghinakan diri. Tentu hidung tidak bisa menggantikan dahi untuk mencapai tujuan tersebut. Tidak ada juga hadits tegas dilihat dari perbuatan dan perkataan (Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam) yang mencukupkan hidung saja tanpa dahi.
Ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa menempelkan hidung tidaklah wajib. Mereka berdalil dengan tidak disebutkannya hidung, yang ada adalah penyebutan dahi secara mutlak. Namun argumen seperti ini lemah. Karena riwayat yang menyebutkan hidung adalah ziyadah tsiqah atau tambahan dari perawi yang shahih. Adapun ulama Syafi’iyah menanggapi hal itu dengan menyatakan bahwa hadits yang menambahkan hidung dibawakan ke makna sunnah (bukan wajib). (Al-Majmu’, 3: 277-278)
Amannya memang menempelkan dahi bersama dengan hidung. Sudah disinggung oleh Imam Nawawi bahwa pendapat tersebut lebih kuat dari sisi dalil. Adapun dikatakan penyebutan hidung adalah tambahan, tetap bisa diterima karena termasuk dalam ziyadah tsiqah, yaitu tambahan dari perawi yang kredibel.
Semoga bermanfaat bagi yang membaca, hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:

Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab li Asy-Syairazi. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alamil Kutub.

Sumber : Rumaysho.com

Sifat Shalat Nabi (34): Aturan Berisyarat dengan Jari Ketika Tasyahud

Sifat Shalat Nabi (34)

Ada beberapa aturan berisyarat dengan jari ketika tasyahud (tahiyat) yang diajarkan oleh Imam Nawawi rahimahullah berarti aturan ini berdasarkan madzhab Syafi’i dengan dukungan dalil. Penjelasannya sebagai berikut.
1- Isyarat jari tersebut diarahkan ke arah kiblat. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.
2- Diniatkan dengan isyarat tersebut untuk menunjukkan ikhlas dan tauhid. Hal ini disebutkan oleh Al-Muzani dalam Mukhtashar Al-Muzani, juga pendapat ulama Syafi’iyah lainnya. Al-Baihaqi beralasan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang majhul dari kalangan sahabat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberisyarat dengan jari untuk menunjukkan tauhid (ikhlas). Dari Ibnu ‘Abbasradhiyallahu ‘anhuma, ia menyatakan bahwa hal itu untuk menunjukkan keikhlasan.
3- Dimakruhkan beisyarat dengan dua jari telunjuk dari dua tangan. Karena yang disunnahkan tangan kiri dibentangkan (tidak berisyarat).
4- Seandainya tangan kanan terpotong, sunnah berisyarat dengan jari menjadi gugur. Sunnah tersebut tidak bisa tergantikan dengan tangan lain karena nantinya hal sunnah pada lainnya akan ditinggalkan. Sama halnya dengan thawaf, tiga putaran pertama disunnahkan untuk melakukan raml (berjalan dengan langkah cepat, pen.). Jika putaran ketiga tidak bisa melakukan raml, maka tidak perlu hal tadi dilakukan di putaran keempat karena sunnah meninggalkan raml di putaran keempat jadi tidak dilakukan.
5- Pandangan orang yang bertasyahud adalah memandang pada isyarat jarinya. Hal ini berdasarkan riwayat Al-Baihaqi dan selainnya dari hadits ‘Abdullah bin Az-Zubair bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanan dan berisyarat dengan jarinya, lantas pandangannya pada isyarat jari tersebut. Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang shahihWallahu a’lam.
Demikian keterangan Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, 3: 302. Semoga bermanfaat,wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:

Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab li Asy-Syairazi. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alamil Kutub.

Sifat Shalat Nabi (33): Sunnah Sesudah Shalat


Ada lagi perkara sunnah yang dilakukan sesudah shalat yang bisa diamalkan.
1- Membaca istighfar dan dzikir lainnya sesudah shalat.
2- Berpindah tempat ketika melaksanakan shalat sunnah atau melaksanakan shalat sunnah di rumah. Di antara tujuannya adalah untuk memperbanyak tempat yang jadi saksi yang mendukung pada hari kiamat kelak.
Dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِى بُيُوتِكُمْ ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ
Shalatlah kalian wahai manusia di rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat kalian adalah shalat di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari no. 731).
Dari Jabir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ فِى مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلاَتِهِ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِى بَيْتِهِ مِنْ صَلاَتِهِ خَيْرًا
Jika salah seorang di antara kalian menunaikan shalat di masjid, jadikanlah shalatnya (shalat sunnah) pula sebagiannya di rumah. Karena Allah akan menjadikan shalat tersebut kebaikan bagi rumah tersebut.” (HR. Muslim no. 778)
Disunnahkan berpindah tempat tersebut berdasarkan hadits As Saa-ib bin Yazid bahwa Mu’awiyyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepadanya, “Apabila engkau telah shalat Jum’at, janganlah engkau sambung dengan shalat lain sebelum engkau berbicara atau pindah dari tempat shalat. Demikianlah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan pada kami. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْ لاَ تُوصَلَ صَلاَةٌ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ
Janganlah menyambung satu shalat dengan shalat yang lain, sebelum kita berbicara atau pindah dari tempat shalat.” (HR. Muslim no. 883).
3- Jika shalat dilakukan di masjid dan di belakang terdapat jama’ah wanita, disunnahkan jama’ah pria untuk tetap diam di tempatnya sampai jama’ah wanita keluar lebih dahulu. Karena ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dapat menimbulkan kerusakan.
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِى تَسْلِيمَهُ ، وَيَمْكُثُ هُوَ فِى مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ . قَالَ نَرَى – وَاللَّهُ أَعْلَمُ – أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَىْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الرِّجَالِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika salam dari shalat, para jama’ah wanita kala itu berdiri. Beliau tetap duduk di tempat beliau barang sebentar sebelum beranjak. Kami melihat –wallahu a’lam- hal itu dilakukan supaya wanita bubar lebih dahulu sebelum berpapasan dengan para pria.” (HR. Bukhari no. 870)
Semoga bermanfaat.

Referensi Utama:

Al Fiqhu Al Manhajiy ‘ala Madzhab Al Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Khin, Dr. Musthofa Al Bugho, ‘Ali Asy Syarbajiy, terbitan Darul Qolam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H.

Sumber : Rumaysho.com

Sifat Shalat Nabi (32): Sunnah Hay’ah


Sunnah yang lain selain sunnah ab’adh adalah sunnah hay’ah. Sunnah hay’ah adalah perkara yang dianggap sunnah dalam shalat, jika ditinggalkan, tak perlu kembali melakukannya dan tidak ada sujud sahwi.
Apa saja yang masuk sunnah hay’ah?
Berikut kami sebutkan berdasarkan penjelasan dari ulama Syafi’iyah.
1- Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, ketika turun ruku’, ketika bangkit dari ruku’, juga ketika bangkit dari tasyahud awal.
2- Meletakkan tangan kanan di atas punggung tangan kiri ketika berdiri dalam shalat.
3- Melihat ke tempat sujud.
4- Membaca doa istiftah setelah takbiratul ihram.
5- Membaca ta’awudz setelah doa istiftah.
6- Menjahrkan (mengeraskan bacaan) pada shalat jahriyyah (Magrib, Shubuh, Isya) dan mensirrkan bacaan (memelankan) pada shalat sirriyyah (Zhuhur dan Ashar).
7- Mengucapkan aamiin di akhir membaca Al Fatihah.
8- Membaca salah satu surat dalam Al Qur’an setelah Al Fatihah.
9- Takbir intiqol, yaitu setiap kali berpindah gerakan diperintahkan mengucapkan takbir ‘Allahu Akbar’ selain ketika bangkit dari ruku’ yaitu yang dibaca adalah ‘sami’allahu liman hamidah rabbanaa lakal hamdu’.
10- Bertasbih ketika ruku’ dan sujud. Saat ruku’ membaca ‘subhana robbiyal ‘azhim’ (3 kali), sedangkan ketika sujud membaca ‘subhana robbiyal a’laa’ (3 kali).
11- Meletakkan kedua tangan di paha ketika duduk saat tasyahud awal dan tasyahud akhir. Tangan kiri dibentangkan, sedangkan tangan kanan dalam keadaan seluruh jari digenggam kecuali jari telunjuk memberikan isyarat.
12- Duduk dengan cara duduk tawarruk pada duduk tasyahud akhir dan duduk selainnya dengan duduk iftirosy.
13- Membaca shalawat Ibrahimiyyah, lalu berdo’a ketika tasyahud akhir.
14- Salam kedua, sedangkan salam pertama masuk rukun shalat.
15- Khusyu’ dalam seluruh gerakan shalat. Yang dimaksud khusyu’ adalah hati merenung apa yang diucapkan oleh lisan, baik bacaan surat, dzikir atau do’a yang dibaca. Semuanya direnungkan dengan memahami artinya dan ketika itu merasa sedang bermunajat dengan Allah Ta’ala.
Harus ada khusyu’ dalam bagian shalat. Jika tidak ada khusyu’ sama sekali sejak awal hingga akhir, maka shalatnya batal.
Penjelasan masing-masing point di atas telah diterangkan dahulu saat penjelasan sifat shalat nabi dan gerakan-gerakannya.
Semoga bermanfaat.

Referensi Utama:

Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabil Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Khin, Dr. Musthofa Al Bugho, terbitan Darul Qalam, cetakan kesepuluh, tahun 1430 H.

Sumber : Rumaysho.com